Hasil pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Provinsi DKI Jakarta yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa 82,26% warga DKI Jakarta merasa senang saat membaca buku. Hal ini selaras dengan kecenderungan 89,99% responden yang mengaku bahwa mereka membaca atas kemauan pribadi tanpa ada paksaan dari pihak lain.
Sumber: Laporan Akhir Hasil Pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca Tahun 2025
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta kembali melakukan pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) dan terus mencatat peningkatan indeks literasi dari tahun ke tahun. Secara keseluruhan, tingkat kegemaran membaca di DKI Jakarta memperoleh skor 73,26 atau meningkat 0,33 poin dari tahun sebelumnya yaitu 72,93. Angka tersebut mencerminkan kuatnya budaya literasi dan partisipasi aktif masyarakat dalam aktivitas membaca. Dari 2.538 responden yang menjadi sampel, 82,26% responden merasa senang saat membaca buku dan mengaku bahwa aktivitas tersebut dilakukan atas kemauan pribadi tanpa ada paksaan dari pihak lain. Kesenangan akan membaca ini dapat menjadi fondasi terciptanya budaya literasi masyarakat.
Pengukuran TKM kali ini mengacu pada Peraturan Perpusnas RI Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca. Berdasarkan peraturan tersebut, terdapat perubahan signifikan terhadap dimensi yang membentuk tingkat kegemaran membaca masyarakat. Sebelumnya, pengukuran dilakukan dengan menggunakan 5 dimensi yaitu frekuensi membaca, durasi membaca, jumlah bahan bacaan, frekuensi akses internet, dan durasi akses internet. Tahun ini, pengukuran dilakukan dengan 3 dimensi saja, yaitu fase pra membaca, fase saat membaca, dan fase pasca membaca. Masing-masing dimensi tersebut terdiri dari berbagai variabel dan indikator yang dibentuk untuk memberi gambaran kegemaran membaca masyarakat secara lebih komprehensif.
Aktivitas Membaca Buku di Taman Menteng dalam Kegiatan Kolaborasi Dispusip
bersama Baca Bareng SBC Jakarta
Dimensi pra membaca terbentuk dari 4 varibel yaitu motivasi membaca, model akses dan kebiasaan membaca, pembelajaran sosial, serta konsep budaya literasi. Dimensi ini berusaha menangkap ketersediaan akses dan dorongan masyarakat sebelum melakukan aktivitas membaca. Dengan skor 65,05, dimensi ini menunjukkan bahwa masyarakat DKI Jakarta memiliki dorongan membaca yang tinggi dengan akses buku dan lingkungan membaca yang mendukung.
Dimensi selanjutnya, saat membaca, memperoleh skor yang lebih tinggi yaitu 71,24 yang terbentuk dari 2 variabel yaitu perilaku membaca dan literasi sosial. Fase ini berupaya menangkap perilaku membaca masyarakat, termasuk pola interaksi untuk memahami bacaan. Interaksi yang dimaksud tidak terbatas pada interaksi terhadap bacaan, namun juga interaksi dengan masyarakat sekitarnya dalam rangka pengembangan pemahaman.
Fase terakhir diukur dalam dimensi setelah membaca yang terdiri dari dampak membaca dan nilai tambah yang diharapkan. Dimensi ini mencoba menangkap hasil yang diperoleh masyarakat setelah aktivitas membaca. Berdasarkan hasil pengukuran TKM dengan 79,67 poin, masyarakat memperoleh dampak yang signifikan dari aktivitas membaca. Mulai dari bertambahnya pengetahuan, meningkatnya kemampuan membaca dan komunikasi, hingga perasaan senang dan bahagia usai membaca.
Seorang Ayah tampak membacakan buku saat mengikuti Piknik Baca dalam Festival Literasi Jakarta 2025 di Taman Ismail Marzuki.
Dari sekian indikator yang membentuk variabel pengukuran TKM, beberapa indikator nampak memperlihatkan peran penting lingkungan sekitar dalam membentuk kesenangan membaca. Dimensi pra membaca menggambarkan adanya dorongan yang signifikan dari tokoh keluarga, tokoh publik, dan teman dalam membentuk kegemaran membaca. 60,15% responden menyatakan terinspirasi untuk membaca karena sering melihat anggota keluarga membaca. Hal itu didukung dengan adanya rekomendasi buku dari teman (65,01%) dan tokoh publik (57,21%) seperti penulis, influencer, akademisi, atau figur di media sosial.
Aktivitas Membaca di Perpustakaan Jakarta Cikini
Dimensi saat membaca juga menunjukkan hal serupa. Terbukti dari 76,74% responden menyatakan bahwa mereka cenderung tertarik untuk berdiskusi dengan orang lain tentang isi sebuah buku. Berakhir pada 90,45% responden yang mengaku dapat berkomunikasi dengan lebih baik dalam dimensi setelah membaca, sekaligus adanya peningkatan perasaan senang dan bahagia usai membaca (89,15 responden).
Kesenangan masyarakat akan membaca ini tentu menjadi fondasi yang kokoh untuk pengembangan literasi kota. Kondisi tersebut perlu diperkuat dengan membentuk ekosistem literasi yang terdiri dari pemerintah, akademisi, komunitas, dan dunia usaha yang saling bersinergi dalam berbagai kegiatan literasi.
Jakarta, 20 November 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Sedunia 2025, gerakan literasi kembali digaungkan melalui program Pemberdayaan Duta Baca yang dikemas dalam berbagai kegiatan inspiratif dan inklusif. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Jakarta, melibatkan ratusan peserta dari berbagai latar belakang. Seluruh rangkaian bertujuan menumbuhkan kecintaan membaca, menulis, serta memperluas akses literasi bagi seluruh anak tanpa terkecuali.
Diawali dengan kegiatan kolaborasi bersama SMPN 156 Jakarta, Duta Baca menghadirkan kegiatan bertema “Menulis Bersama Duta Baca, Menyapa Dunia dengan Kata”. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk pelatihan menulis cerpen yang melibatkan siswa-siswi untuk mengeksplorasi imajinasi, mengembangkan ide, serta mempraktikkan teknik dasar penulisan cerita. Lewat sesi berbagi inspirasi dari Duta Baca, para peserta diajak memahami bahwa tulisan adalah jendela untuk menyapa dunia dan menyuarakan gagasan mereka secara positif.
Kolaborasi berlanjut pada Kamis, (20/11) bersama SLBN 3 Jakarta melalui kegiatan bertema “Literasi Tanpa Batas: Duta Baca Sahabat Anak”. Kegiatan ini menghadirkan berbagai aktivitas yang ramah dan inklusif diantaranya Dongeng bersama Duta Baca yang disampaikan dengan gaya interaktif dan penuh nilai baik, Kegiatan menggambar dan mewarnai bersama yang mendorong kreativitas visual anak, serta Sesi membaca buku braille bersama dan pemanfaatan koleksi Perpustakaan keliling bersama seluruh warga sekolah SLBN 3 Jakarta. Acara kolaborasi ini tentu menunjukkan bahwa literasi adalah hak semua anak, tanpa batas, serta dapat dihadirkan melalui media yang sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik. Anak-anak juga mengikuti kegiatan dengan antusias. Interaksi hangat antara Duta Baca dan peserta menjadi bukti bahwa literasi mampu menjadi jembatan dan memperkuat rasa kebersamaan.
Sebagai penutup peringatan Hari Anak Sedunia, digelar Konser Baca Jakarta 2 – Jakarta Pusat pada 20 November 2025 pukul 14.00. Acara ini diikuti oleh 100 peserta terpilih yang mendapatkan kesempatan untuk menikmati dongeng bersama Kak Budi, seorang pendongeng yang dikenal mampu menghidupkan imajinasi anak melalui cerita-cerita penuh nilai.
Penutup acara semakin meriah dengan pengundian doorprize berupa 5 unit sepeda, yang disambut sorak-sorai peserta. Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa membaca dan literasi dapat dipadukan dengan hiburan yang menggembirakan, menciptakan pengalaman positif yang akan terus diingat oleh anak-anak.
Melalui seluruh rangkaian kegiatan ini, Duta Baca bersama para mitra pendidikan berkomitmen untuk terus mendorong budaya literasi yang inklusif dan berkelanjutan
Seluruh rangkaian kegiatan pemberdayaan Duta Baca ini tidak hanya memperingati Hari Anak Sedunia, tetapi juga memperkuat komitmen untuk menghadirkan literasi sebagai ruang tumbuh dan ruang ekspresi bagi semua anak. Dengan melibatkan berbagai institusi pendidikan, kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi adalah kunci untuk mewujudkan masa depan literasi yang lebih inklusif, kreatif, dan berkelanjutan.
Semangat Hari Anak Sedunia juga menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak mendapatkan akses literasi yang setara, inspiratif, dan memberdayakan.
Peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1928 merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Melalui ikrar yang lahir dari semangat persatuan dan cinta tanah air, para pemuda dari berbagai daerah bertekad untuk bersatu di bawah satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Di balik momentum bersejarah ini, terdapat sejumlah tokoh penting yang berperan besar dalam merumuskan, menggerakkan, dan menjaga semangat persatuan tersebut.
1. Muhammad Yamin
Muhammad Yamin dikenal sebagai sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, sekaligus ahli hukum yang disegani. Ia turut menyumbangkan gagasan besar dalam Kongres Pemuda II serta dipercaya merumuskan butir-butir penting dalam teks Sumpah Pemuda. Dedikasinya terhadap bahasa dan persatuan bangsa menjadikannya salah satu pilar kebangkitan nasional.
2. Soegondo Djojopoespito
Sebagai aktivis Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Soegondo Djojopoespito berperan penting sebagai Ketua Kongres Pemuda II. Di bawah kepemimpinannya, berbagai organisasi pemuda dari latar belakang yang berbeda berhasil duduk bersama dan melahirkan satu kesepakatan besar: Sumpah Pemuda.
3. Djoko Marsaid (Tirtodiningrat)
Djoko Marsaid, atau yang dikenal dengan Tirtodiningrat, menjabat sebagai Wakil Ketua Kongres Pemuda II dan juga Ketua organisasi Jong Java. Ia menjadi penghubung antara berbagai kelompok pemuda serta berperan dalam menjaga jalannya kongres dengan penuh semangat dan kedisiplinan.
4. Wage Rudolf Supratman
Nama Wage Rudolf Supratman atau W.R. Supratman tentu tak asing lagi. Ia menyalurkan semangat kebangsaan melalui musik dengan menciptakan lagu “Indonesia Raya”, yang pertama kali diperdengarkan di Kongres Pemuda II. Lagu ini kemudian menjadi lambang perjuangan dan resmi ditetapkan sebagai lagu kebangsaan Indonesia.
5. Soenario Sastrowardoyo
Soenario aktif dalam pergerakan nasional dan turut berjuang di kancah internasional. Saat berada di Belanda, ia menjadi Sekretaris II Perhimpunan Indonesia dan turut menyusun Manifesto Politik 1925 yang menegaskan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia di mata dunia.
6. Amir Syarifuddin Harahap
Sebagai perwakilan dari Jong Batak, Amir Syarifuddin berperan sebagai bendahara dalam Kongres Pemuda II. Selain mengelola kebutuhan organisasi, ia juga dikenal sebagai pemikir progresif yang turut menyumbangkan ide-ide penting dalam perumusan naskah Sumpah Pemuda.
7. Sarmidi Mangunsarkoro
Sarmidi Mangunsarkoro adalah tokoh pendidikan nasional yang meyakini bahwa semangat persatuan harus ditanamkan melalui pendidikan. Ia kemudian diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1949–1950 dan terus memperjuangkan sistem pendidikan nasional yang berakar pada nilai kebangsaan.
8. Sie Kong Liong
Peran Sie Kong Liong mungkin tak seterkenal nama-nama lainnya, namun jasanya sangat besar. Ia dengan sukarela menyediakan rumahnya di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat, sebagai tempat berlangsungnya Kongres Pemuda II. Kini, rumah tersebut dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda, tempat saksi sejarah lahirnya ikrar kebangsaan.
9. Kartosuwiryo
Kartosuwiryo merupakan salah satu tokoh yang turut berpartisipasi dalam Sumpah Pemuda. Di kemudian hari, ia dikenal sebagai pemimpin gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang muncul pada masa awal kemerdekaan. Meskipun perjalanannya kemudian berbeda arah, kiprahnya tetap menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan bangsa.
Sumpah Pemuda bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga cerminan kekuatan kolaborasi antar generasi muda Indonesia. Melalui tekad dan semangat para tokoh ini, lahirlah fondasi persatuan yang menjadi dasar berdirinya negara Indonesia. Kini, tugas generasi penerus adalah menjaga semangat tersebut agar tetap hidup—sebagai pengingat bahwa kemerdekaan dan persatuan bangsa berawal dari semangat para pemuda yang percaya pada masa depan Indonesia.
Source : https://www.geniora.com/article/tokoh-penting-sumpah-pemuda-dan-perannya/
Tahukah kamu? Nama Papanggo di Jakarta Utara ternyata berasal dari kata De Papangers — sebutan bagi orang Pampanga dari Filipina yang pernah tinggal di Batavia pada masa kolonial. Simak kisah sejarah uniknya di sini!
Papanggo merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Tanjung Priok, Kota Administrasi Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta. Wilayah ini memiliki posisi yang strategis dan menjadi bagian penting dari kawasan utara Jakarta yang berkembang pesat. Namun, di balik nama “Papanggo” tersimpan kisah sejarah panjang yang menarik dan jarang diketahui masyarakat luas.
Nama “Papanggo” berasal dari istilah Belanda “De Papangers”, yang berarti “orang Pampanga”. Pampanga sendiri adalah sebuah wilayah di Pulau Luzon, Filipina. Menurut catatan sejarah, pada masa kolonial Hindia Belanda, sekelompok orang dari Pampanga didatangkan ke Batavia sebagai serdadu atau pekerja pendukung pemerintah kolonial. Mereka kemudian ditempatkan di wilayah Tanjung Priok, dan daerah tempat mereka bermukim disebut dengan istilah “Papangers”. Seiring berjalannya waktu, istilah tersebut berubah dalam pengucapan lokal menjadi “Papanggo”.
Pada masa itu, kawasan Papanggo dikenal sebagai tempat tinggal para serdadu dan keluarganya yang berasal dari Filipina. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat lokal dan lambat laun berbaur menjadi bagian dari penduduk Batavia. Nama “Papanggo” pun menjadi penanda sejarah pertemuan budaya antara Belanda, Filipina, dan masyarakat pribumi di wilayah Jakarta Utara.
Kini, Papanggo dikenal sebagai kawasan padat penduduk yang juga menjadi lokasi berdirinya Jakarta International Stadium (JIS), salah satu ikon baru Jakarta Utara. Meski telah modern, jejak sejarah Papanggo sebagai kampung para serdadu Filipina masih menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini. Mengetahui asal usul nama Papanggo tidak hanya memperkaya wawasan sejarah lokal, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap keberagaman budaya yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan Jakarta.
Kisah Papanggo mengingatkan kita bahwa setiap nama tempat memiliki sejarah dan makna yang membentuk identitas kota. Dari “De Papangers” hingga “Papanggo”, wilayah ini menjadi bukti nyata bagaimana perjalanan sejarah dan percampuran budaya meninggalkan jejak yang abadi di tengah modernisasi Jakarta Utara.
(Sumber: Akurat.co, Historia.id, Wikipedia, Katalogika.com, Republika – Kurusetra)
Fase Pengembangan Aplikasi Pengelolaan Arsip Dinamis Arjuna
2018
2021
2022
2023
2024
2025
*Continuous Improvement (Pengembangan Berkelanjutan)
Currently, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin has become one of the most well-known libraries in Jakarta. Many visitors come to enjoy the facilities and services provided by the library, including those with disabilities. With accessible collections and services available, the library welcomes visitors with various types of disabilities who come to enjoy the inclusive facilities it provides.
Its commitment to inclusivity has also attracted researchers from various institutions who are interested in evaluating how accessible the public space is for individuals with disabilities. One of the research projects conducted was the Grant-funded research titled “Studi Praktik Pendekatan Inklusif pada Desain Arsitektur Interior: Mewujudkan Ruang Publik yang Aksesibel bagi Penyandang Disabilitas Tidak Terlihat” on Tuesday, July 29, 2025 at the Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin building in the Taman Ismail Marzuki area. This project involved a team from Mercu Buana University, particularly from the Architecture and Interior Design majors in collaboration with the Jakarta branch of Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) and the National Disability Commission (Komisi Nasional Disabilitas/KND), Republic of Indonesia. The study aimed to observe and collect data regarding the implementation of inclusive design in the building of Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin as a public space. Some types of invisible disabilities were considered as variables in the study, including hearing disability (Deaf), Intellectual disability (Down Syndrome), mental disability (psychosocial and development) and dwarfism (dwarf body). Based on the variables determined by the researchers, it indicates that disabilities may not always be obvious. Understanding invisible disabilities requires a shift in perspective towards disability. It is not defined only through the presence of assistive devices or physical appearance, but rather goes beyond what can be seen.
The research activity included initial discussion on the implementation of inclusive design in public spaces for people with invisible disabilities, an observation on the accessibility of infrastructures and facilities for people with invisible disabilities along with the reasonable accommodations provided, as well as documentation process for research purposes. Both physical and non-physical infrastructures were assessed, and the scoring was based on whether the building meets the criteria of Universal Design as mentioned in Ministry Regulation (Permen) of Public Works and Housing (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat/PUPR) No. 14 2017 about requirements for building convenience, one of which is the application of universal design principles.
What Makes a Public Space Inclusive: Accessibility and Accommodation for Invisible Disabilities
As mentioned earlier, identifying invisible disabilities needs a shift in how we perceive disability. Unlike visible disabilities such as blindness, for example, these conditions cannot be acknowledged through the use of assistive devices or physical appearance only. Invisible disabilities include conditions that affect sensory perception, mental health, cognition development, or specific physical conditions that are not immediately noticeable but can significantly impact daily functioning.
Individuals with invisible disabilities often face challenges in navigating public spaces as the environment is not aware of their needs due to non-visible nature of their conditions. One of the most common challenges is the lack of basic adjustments to facilities and services that allows them to access public spaces comfortably. This leads to a crucial question: what kinds of accessibility features and reasonable accommodations are needed to support individuals with invisible disabilities in public spaces?
To ensure inclusivity, public spaces must provide both physical and non-physical accommodations that address the diverse needs of individuals with invisible disabilities. Therefore, it is necessary to apply Universal Design principles in creating accessible features for all, including those with invisible disabilities. However, it is important to note that Universal Design approach is not specifically about disability issues. It also enhances the experience for everyone by promoting adaptability, efficiency, flexibility, and safety. The concept is mainly aimed to create products, buildings, environments, and services that are accessible for everyone, regardless of ability, age, or other factors.
Accessibility Features and Reasonable Accommodations for Individuals with Invisible Disabilities in Public Spaces
Compiled from several sources, individuals with invisible disabilities are just as entitled to accessibility features and reasonable accommodations in public spaces as those with visible disabilities. To determine whether a public space is inclusively designed for individuals with invisible disabilities, several key areas should be considered. These include physical accessibility, sensory environment, information and communication, social and cultural inclusivity, safety and security, and community engagement.
A. Physical Accessibility
It refers to the physical infrastructures of public spaces, such as smooth and obstacle-free pathways, ramps, cclear signage, accessible entrances, accessible restrooms with appropriate features for individuals with either visible or invisible disabilities, and parking areas that are compatible with the guidelines of the inclusive design for people with visible and invisible disabilities (read: Permen PUPR No. 14 2017). These demonstrate that ease of access is for all, not only to those with visible mobility barriers, but also for anyone who may benefit from ease of movement.
B. Sensory Environment
This aspect focuses on how the space supports sensory sensitivities. Individuals with invisible disabilities, such as autism or anxiety disorders may be affected by bright lights, loud sounds, strong smells, or visual messes. A supportive sensory environment has features like calm lighting, low-noise areas, spaces free from overpowering smells, and simple visual design with contrasting colors to help users identify particular areas and information. These adjustments help people feel safe and comfortable while exploring public spaces.
C. Information and Communication
Inclusive public spaces should provide easy-to-understand information for everyone who needs it, including using simple language, clear signage, visual symbols, audio announcements, and alternative formats such as large print. Digital tools such as apps or QR codes with audio guidance can also support those with cognitive or sensory disabilities. Staff should be trained to communicate with and help people who may have difficulty processing information or expressing themselves.
D. Social and Cultural Inclusivity
Realizing inclusive public spaces means designing spaces where everyone can participate in activities together, receiving equal treatment regardless of their ability and without feeling excluded. Inclusive facilities should support diverse needs and encourage respectful interactions among visitors. For instance, in public libraries, providing flexible seating, quiet corners, and options to take part in activities held by the libraries in different ways, (e.g. online or in smaller groups) helps individuals with mental health conditions or anxiety fully and meaningfully participate.
E. Safety and Security
For those with invisible disabilities, feeling physically and emotionally safe is highly essential. Emergency systems should include visual alarms and clear evacuation routes. Spaces should avoid sudden sensory triggers, such as flashing lights or loud sirens, without warning. Staff should be trained to respond calmly and respectfully to a variety
of behaviors or needs that may arise during emergencies.
F. Community Engagement
Stakeholders who are responsible for the design of the public services operation should involve individuals with invisible disabilities in planning, decision-making, and evaluation to create inclusive features for everyone. It can be done through insightful activities, such as sharing sessions, forum group discussions, or short-term workshops to improve the staff capacity in providing services. Their lived experiences can reveal important insights that may not be obvious to designers or managers. These help improve facilities and services of the public spaces and transform them into inclusive public spaces that are accessible for all. These approaches ensure the space evolves to truly reflect the needs of its diverse users.
Overall, this exploration serves as a reminder that creating inclusive public spaces that are accessible truly for everyone is a continuous process. It requires attention, reflection, and commitment from the stakeholders related. Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin holds the potential to not only provide access to library services but also to grow as a model of inclusion for others. It is important to highlight that those with either visible or invisible disabilities have the same rights to access public facilities with dignity, comfort, and equality.
References
British Medical Association. (2020). Access for all: Invisible disabilities remain overlooked. BMA. https://www.bma.org.uk/news-and-opinion/access-for-all-invisible-disabilities-remain-overlooked
Concept Care. (2024). Invisible disabilities. https://www.conceptcare.com.au/invisible-disabilities/
Jensen, M. (2024). A guide to invisible disabilities. AudioEye. https://www.audioeye.com/post/guide-to-invisible-disabilities/
Kelly, R., & Mutebi, N. (2019). Invisible disabilities (POSTnote No. 589). Parliamentary Office of Science and Technology. https://post.parliament.uk/research-briefings/post-pn-0689/
Lingkar Sosial Indonesia. (2022). Prinsip desain universal: Bangunan gedung dan lingkungan yang ramah disabilitas. Lingkar Sosial. https://lingkarsosial.org/prinsip-desain-universal-bangunan-gedung-dan-lingkungan-yang-ramah-disabilitas/
Moen, R. D. (n.d.). Universal design: The key for inclusion and accessibility. Made for Movement. https://www.madeformovement.com/en-gb/blog/universal-design-the-key-for-inclusion-and-accessibility
Perkins School for the Blind. (n.d.). Inclusion, accessibility, and the importance of acknowledging invisible disabilities. Perkins.org. https://www.perkins.org/resource/inclusion-accessibility-and-the-importance-of-acknowledging-invisible-disabilities/
Republik Indonesia. (2017). Permen PUPR No. 14 Ta. 2017: Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung. Peraturan BPK. https://peraturan.bpk.go.id/Details/104477/permen-pupr-no-14prtm2017-tahun-2017
Fase Pengembangan Aplikasi Siapjak
(Sistem Informasi Administrasi Perpustakaan Jakarta)
Dasar Hukum
2019
2020
2021
Implementasi Siapjak :
2022
· Perubahan domain yang semula dispusip.jakarta.go.id/siapjak berubah menjadi siapjak.jakarta.go.id.
· Penambahan menu input Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN).
· Penambahan fitur filter untuk seluruh jenis perpustakaan yang terdaftar, khususnya untuk jenis perpustakaan sekolah (SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB).
· Penambahan fitur tampilan informasi data jumlah perpustakaan yang teregistrasi setiap triwulan untuk setiap jenis perpustakaan.
· Penambahan modul Agenda Kegiatan Literasi mulai Agustus 2022. Siapjak berperan sebagai admin pengolah data agenda kegiatan literasi yang dilaksanakan oleh Bidang Debangpus, Bidang P2PKM dan Sudinpusip lima wilayah yang mencakup kegiatan literasi dalam beberapa kategori antara lain:
a. Aksi Komunitas
b. Aktivitas Literasi
c. Seminar
d. Seremoni
e. Story Telling
a. Data Jadwal
b. Data Kendaraan
2023
· Kebijakan single sign on untuk penginputan Agenda Literasi dan Jadwal Pusling yang akan diintegrasikan dengan Agenda Kearsipan.
2024
a. Ubah/update data perpustakaan
b. Filter view pada list user berdasarkan jenis, subjenis dan lokasi wilayah perpustakaan
c. Pilihan untuk ekspor data ke format excel
a. Sarana dan Prasarana
b. Organisasi
c. Data Perpustakaan terbaru
Penyelenggara perpustakaan dapat mencetak tanda daftar perpustakaan sebagai bukti telah melakukan pendaftaran perpustakaan sebagaimana diamanatkan Pasal 27 Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Perpustakaan.
2025
· Rilis menu Admin Karya Cetak Karya Rekam (KCKR) tanggal 15 Juli 2025.
· Jumlah perpustakaan terdaftar di aplikasi Siapjak sebanyak 5.254.
*Continuous Improvement (Pengembangan Berkelanjutan)
Tahapan pengembangan aplikasi e-Office mulai dari tahun 2018-2024. Pengembangan dimulai dengan layanan surat masuk bagi pejabat eselon II, kemudian secara bertahap dikembangkan fitur penciptaan naskah dinas keluar mulai dari SKPD, UKPD, Kecamatan dan UPT.
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025
*Continuous Improvement (Pengembangan Berkelanjutan)
Fase Pengembangan Aplikasi Jaklitera (Jaringan Koleksi Lintas Area)
2018
· Peraturan Gubernur Nomor 76 Tahun 2018 tentang Pembudayaan Kegemaran Membaca, tanggal 26 Juli 2018.
2019
· Diskusi konsep OCAL (One Card Access Library) dalam layanan perpustakaan (sesuai surat undangan tanggal 28 Juni 2019 tentang Pembahasan Aplikasi OCAL, SIAP, SIAK).
· Pelaksanaan Baca Jakarta Offline tanggal 1 – 30 April 2019.
· Diskusi lanjutan pengembangan konsep OCAL.
· Kawasan Taman Ismail Marzuki direvitalisasi mulai 3 Juli 2019 dan menyatukan bangunan Gedung Perpustakaan Cikini dengan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin.
2020
· Pengembangan konsep OCAL : input katalog buku.
· Keputusan rapim Dispusip mengenai pengembangan OCAL tanggal 3 Maret 2020.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Offline Tahun 2020 direncanakan dua kali yaitu Periode I tanggal 11 Maret – 09 April 2020 dan Periode II tanggal 04 September – 03 Oktober 2020.
· Pandemi Covid-19 menghentikan pelaksanaan Kegiatan Baca Jakarta Tahun 2020.
· Diskusi pengembangan Baca Jakarta Online.
2021
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor 78 Tahun 2021 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perpustakaan Umum Provinsi, Perpustakaan Umum Kota Administrasi dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta tanggal 19 Januari 2021.
· Pengembangan Inlis Dashboard pada Februari 2021
· Pengembangan Aplikasi Baca Jakarta versi 01 pada Maret 2021.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online tanggal 1 – 30 April 2021 (setahun sekali).
· Pengembangan Aplikasi OCAL (integrasi aplikasi Inlislite dan Siapjak) pada Juli 2021.
2022
· Pengembangan Aplikasi Baca Jakarta versi 02 pada Januari 2022.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan I tanggal 18 Januari – 16 Februari 2022.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan II tanggal 18 April – 17 Mei 2022.
· Uji coba Jaklitera tanggal 24 Mei 2022.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor 185 Tahun 2022 tentang APLIKASI JAKLITERA (Jaringan Koleksi Lintas Area) TAHUN 2022 tanggal 2 Juni 2022.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0042 Tahun 2022 tentang Penamaan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi dan Lima Wilayah Kota Administrasi Sesuai Citra Baru di Lingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan tanggal 8 Juni 2022.
· Kick off aplikasi Jaklitera (pendaftaran anggota secara online bagi pejabat, ASN dan PJLP Dispusip) tanggal 22 Juni 2022.
· Rapat Koordinasi Teknis Jaklitera tanggal 29 Juni 2022.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan III tanggal 01 – 26 Juli 2022.
· Uji coba transaksi sirkulasi on site Jaklitera tanggal 1 Juli 2022.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0043 Tahun 2022 tentang Tim Verifikator, Admin dan Panduan Kebijakan Jaklitera tanggal 6 Juli 2022.
· Peresmian Perpustakaan Cikini tanggal 7 Juli 2022.
· Launching aplikasi Jaklitera versi website tanggal 8 Juli 2022.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0049 Tahun 2022 tentang Arsitektur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tahun 2022 – 2026 tanggal 21 Juli 2022.
· Rilis Layanan Antar Koleksi secara penuh tanggal 17 Agustus 2022.
· Rilis fitur Night at The Library ke Jaklitera tanggal 31 Agustus 2022.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0053 Tahun 2022 tentang Pedoman Penyelenggaraan Layanan dan Standar Pelayanan Perpustakaan Umum Dispusip Provinsi DKI Jakarta tanggal 31 Agustus 2022.
· Rilis fitur donasi buku ke Jaklitera tanggal 9 September 2022.
· Rilis fitur pusling ke Jaklitera tanggal 5 Oktober 2022.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan IV tanggal 24 Oktober – 22 November 2022.
2023
· Integrasi aplikasi Baca Jakarta ke Jaklitera pada Januari 2023.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan I tanggal 5 – 20 Februari 2023.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan II tanggal 7 – 20 Mei 2023.
· Launching aplikasi Jaklitera versi android tanggal 21 Juli 2023.
· Rilis fitur Baca Jakarta di aplikasi android tanggal 17 September 2023.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan III tanggal 17 September – 2 Oktober 2023.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan IV tanggal 5 – 20 November 2023.
2024
· Penghapusan opsi reservasi regular, reservasi untuk event tetap diberlakukan pada tanggal 25 Maret 2024.
· Integrasi koleksi digital Pusat Data dan Analisa Tempo tanggal 3 Juni 2024.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan I tanggal 8 – 23 Juni 2024.
· Redesain antar muka website Jaklitera tanggal 1 Juli 2024.
· Launching aplikasi Jaklitera versi IOS dan fitur perlindungan data pribadi tanggal 3 Juli 2024.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan II tanggal 28 Oktober – 12 November 2024.
· Rilis fitur Katalog Sastra Jaklitera versi web tanggal 6 November 2024.
· Rilis fitur Katalog Sastra versi Android pada tanggal 8 November 2024 dan IOS pada tanggal 11 November 2024.
2025
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan I tanggal 24 Februari – 11 Maret 2025.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0033 Tahun 2025 tentang Desain Transformasi Layanan Perpustakaan dan Kearsipan Terintegrasi tanggal 4 Juni 2025.
· Rilis fitur Reservasi Layanan Immersive versi web tanggal 15 Juni 2025.
· Rilis fitur Event Workshop Membaca versi web tanggal 26 Juni 2025.
· Rilis fitur Pencatatan KCKR versi web tanggal 15 Juli 2025.
· Rilis fitur Event Pendaftaran Lomba Piala HB Jassin versi web tanggal 15 Juli 2025.
*Continuous Improvement (Pengembangan Berkelanjutan)
It has been widely acknowledged that libraries, including public libraries, are pillars of knowledge, enhancing intellectual development and socio-cultural awareness in communities. In addition to serving as repositories of books, public libraries hold an important role in shaping the mindset of people, encouraging critical thinking, creating open-mindedness, and constructing adaptability to changes in various aspects of life including the environment, social dynamics, and technology. In an era of technological advancement as well as social transformation, the impact of public libraries in developing a progressive and inclusive mindset cannot be ignored.
One of the essential aspects indicating that public libraries contribute to creating an open-minded society is their role in providing access to diverse perspectives (Ashikuzzaman, 2023). While digital platforms tend to provide views through algorithmic content curation, the libraries offer a wide and objective range of literature, such as literary documents, historical records, and research materials, all of which contain facts and are well-curated. The libraries also help ensure an authentic record of knowledge that are composed by past generations (Mondal, 2021). In this case, librarians play their main role as ‘organizers’ in managing and displaying the reliable information in the libraries. Meanwhile, fiction-related collections are arranged separately to make sure the collection category does not mislead and disturb those who seek factual information for study or research. Furthermore, nowadays, misinformation and bias are crucial issues that often arise in online spaces, making it essential for individuals to develop the ability to search for and discover credible sources. It is believed that exposure to new ideas and cultures strengthens people’s critical thinking and reduces prejudice.
At this point, the integration of technology in public libraries helps people easily find and borrow collections that match their interests through e-catalog and digital services (Hazan & Ayub, 2024). This integration enables the people to do their tasks by providing easy access, speed, and efficiency. It leads them to become more productive while exploring the collections in the libraries. Technology integrated into public libraries, particularly in the aspect of the library services, boosts visitors’ sense of comfort while engaging in various activities such as reading, developing information literacy skills, learning new things, or attending online meetings. Recently, some public libraries have started offering digital books through their online platforms. It allows people to legally access digital books anytime and anywhere. Additionally, these electronic books are guaranteed to come from credible sources. As a result, to provide inclusive access to all, the libraries must make sure that both the platforms and electronic books are designed to accommodate everyone.
Public Libraries as a Medium for Character Development
Since public libraries are dedicated to run and organize educational, social and cultural activities, they function as community centers appropriate for a variety of constructive activities or events. According to Vasilievna & Vladimirovna (2021), public libraries, along with public communities, organize various activities, facilitating the process of intellectual interactions such as workshops, seminars, discussions, talk shows, and book clubs that are primarily intended for their members, yet they are often open to the public and actively engage the participants from various backgrounds. These literacy activities provide individuals with opportunities to share ideas and gain valuable insights. The participants also learn new cultural perspectives when they are involved in discussions or sharing sessions. When people have the chances to engage with different ideas, they become more open to change and innovation, learning to respect and appreciate differences.
Moreover, public libraries also provide a dedicated space for children. This space allows them to explore and learn new things, and interact with their peers through literacy programs to strengthen their social skills. Children are introduced to literature which is appropriate for their ages and develop their interests in reading (Itsekor & Nwokeoma, 2017). Such interactions not only enhance critical thinking, but also improve children’s creativity, rational thoughts, and open-mindedness while still allowing them to play. Following that, the role of public libraries extends beyond childhood, as they also support school and college students in accessing credible references, collaborating on projects, and encouraging their analytical and problem-solving skills, or even simply spending their leisure time in the libraries. Public libraries remain a vital resource, providing them with diverse learning materials and fostering their ability to think critically and independently.
Hence, public libraries serve as bridges between tradition and progress these days, offering resources —both physical and digital —that equip individuals with the ability to integrate new perspectives while maintaining critical thinking. It is clearly demonstrated through the diverse literature available and the literacy activities or events organized in the libraries that give opportunities for learning. Everyone can participate and they gain insights from activities covering various topics, where they are exposed to new values through their interactions. These experiences help individuals develop adaptability as a foundation for building meaningful relationships with others in their social lives, as they become more flexible in adapting to changes and dealing with diversity.
Thus, public libraries contribute to forming a society that values knowledge, embraces diversity, and remains adaptable to changes by fostering intellectual discussions, providing access to diverse ideas through displayed collections, and promoting information literacy by utilizing technology. Public libraries also facilitate character development through organized activities or events, enabling people to actively participate, whether in person or through digital engagement, and learn to interact with others in a well-mannered way. These analyses convey that public libraries play a crucial role in shaping an open-minded way of thinking and building critical skills, which are essential for nurturing the socio-cultural and intellectual development of future generations in order to adapt to an inclusive modern world.
(Written by Khairunnisa Rahayu)